sakramen perkawinan

Tata upacara dan pilihan doa dan bacaan untuk upacara saling menerimakan sakramen perkawinan

Wednesday, February 22, 2006

SAKSI PERKAWINAN - Catatan

SAKSI-SAKSI PERKAWINAN

(sebuah usul gagasan)


Menjadi saksi perkawinan Katolik bukan hanya sekedar menyaksikan upacara Gerejani yang berlangsung. Menjadi saksi perkawinan Katolik sekaligus memberi kesaksian nyata tentang hidup Gereja yang mau menopang dan mendukung hidup perkawinan yang baru itu. Maka saksi boleh dikata merupakan teman melangkah dalam membangun keluarga. Bisa dibayangkan tugas saksi itu serupa dengan bapa/ibu permandian. Oleh karena itu, perlu diperhatikan dalam memilih saksi:

  1. Saksi sebaiknya lebih tua daripada kedua mempelai
  2. Saksi sebaiknya orang yang kenal akrab dengan kedua mempelai, namun sekaligus juga hendaknya mempunyai wibawa terhadap kedua mempelai. Maksudnya adalah, supaya kalau diperlukan, dapat membantu keluarga baru ini menghadapi masalahnya.
  3. Saksi sebaiknya orang yang bersedia juga senantiasa mendoakan kedua mempelai. Maksudnya adalah: agar antara keluarga saksi dan keluarga mempelai nampaklah kehidupan Gereja, yang saling mendoakan, yang saling mendukung dalam doa.
  4. Antara keluarga baru ini dengan para saksi sebaiknya tetap ada kontak. Kalaupun berjauhan, dapat kontak lewat surat. Maksudnya adalah, supaya persekutuan dalam iman tetap dapat dipelihara.
  5. Kontak itu juga perlu, karena saksi juga punya tanggungjawab agar keluarga baru itu sungguh menghayati hidup Katoliknya. Maka, saksi dapat setiapkali menanyakan juga keadaan anak-anak dari keluarga baru itu: misalnya apakah sudah komuni I, krisma, atau lainnya. Demikian juga dari pihak keluarga baru, diharapkan menyampaikan situasi umum keluarga kepada saksi. Kalau anaknya ada yang dipermandikan, menerima komuni I, krisma, atau bahkan perkawinan, saksi sebaiknya diberitahu. Syukur kalau bisa datang. Minimal bisa mendoakan dari jauh.
  6. Saksi sebaiknya Katolik, bisa dijadikan teladan, sudah menerima krisma dan Ekaristi.
  7. Masing-masing mempelai sebaiknya mempunyai saksinya sendiri.
  8. Saksi boleh pria semua atau wanita semua.
  9. Sebaiknya saksi bukan suami-isteri, atau saudara sekandung. Saudara ipar masih diperkenankan.
  10. Saksi sebaiknya sungguh kenal dengan kedua mempelai, karena saksilah yang akan menyerahkan mereka kepada pastor dalam keadaan tak ada halangan untuk menikah dan pantas menerima sakramen.



1 Comments:

  • At 10:11 PM, Blogger CiCiLiA said…

    bagaimana tanggapan/pandangan masyarakat tentang sakramen perkawinan?
    Tolong segera d jawab..
    thx

     

Post a Comment

<< Home