sakramen perkawinan

Tata upacara dan pilihan doa dan bacaan untuk upacara saling menerimakan sakramen perkawinan

Saturday, July 29, 2006

Sakramen

Sakramen itu tanda dan sarana karya Allah dalam kehidupan manusia. Sakramen perkawinan itu tanda dan sarana karya Allah dalam kehidupan suami dan isteri

Sunday, March 26, 2006

Pengantar Umum

Friday, February 24, 2006

Pemahaman

PERKAWINAN

MENURUT

GEREJA KATOLIK

Salah satu usaha menafsirkan


I. AJARAN GEREJA KATOLIK TENTANG PERKAWINAN

Ada begitu banyak pasangan calon mempelai yang sudah lama ber­pacaran, namun seringkali mereka belum mempergunakan kesempatan pacaran itu untuk dapat mempersiapkan diri dalam membangun keluarga katolik. Salah satu hal yang sangat penting namun seringkali terlupakan adalah kurangnya/ tidak pernah dilaksanakan pengolahan pengalaman hidup untuk melangsungkan suatu pernikahan sesuai ajaran Gereja Katolik. Oleh karena itu pentinglah, dalam membaca uraian di bawah ini, pembaca menggali pengalaman pribadi, khususnya ketika mempersiapkan perkawinannya. Rumusan ini bisa membantu un­tuk menilai diri sendiri, apakah memang sudah siap (minimal) secara mental dan rohani untuk melangsungkan perkawinan.

Perkawinan adalah:

PERSEKUTUAN HIDUP - ANTARA SEORANG PRIA DAN SEORANG WANITA - YANG TERJADI KARENA PERSETUJUAN PRIBADI - YANG TAK DAPAT DITA­RIK KEMBALI - DAN HARUS DIARAHKAN KEPADA SALING MENCINTAI SEBAGAI SUAMI ISTERI - DAN KEPADA PEMBANGUNAN KELUARGA - DAN OLEH KARENANYA MENUNTUT KESETIAAN YANG SEMPURNA - DAN TIDAK MUNGKIN DIBATALKAN LAGI OLEH SIAPAPUN, KECUALI OLEH KEMATIAN.


a. PERSEKUTUAN HIDUP

Apa yang pertama-tama kelihatan pada perkawinan Katolik? Jawabnya adalah: Hidup bersama. Namun, hidup bersama itu masih berane­karagam isinya. Dalam perkawinan Katolik, hidup bersama itu mewu­judkan persekutuan. Jadi, hidup bersama yang bersekutu.

Bersekutu mengisyaratkan adanya semacam kontrak, semacam ikatan tertentu dengan sekutunya. Bersekutu mengandaikan juga kesediaan pribadi untuk melaksanakan persekutuan itu, dan untuk menjaga persekutuan itu. Ada kesediaan pribadi untuk mengikatkan diri kepada sekutunya, dan ada kesediaan pribadi untuk memperkembangkan ikatannya itu supaya menjadi semakin erat.

Ikatan ini tidak mengurangi kebebasannya. Justru ikatan itu mengisi kebebasan orang yang bersangkutan. Pertama-tama karena para calon mempelai memilih sendiri untuk bersekutu, dan bebas un­tuk memilih mau bersekutu dengan siapa, memilih untuk terikat dengan menggunakan kebebasan sepenuhnya; tetapi juga karena kebebasan itu hanya dapat terlaksana dalam melaksanakan pilihannya untuk bersekutu ini. Dengan kata lain boleh dikatakan bahwa persekutuan itu membuat orang sungguh-sungguh bebas karena dapat memperkem­bangkan kreatifitas dalam memelihara dan mengembangkan persekutuan itu; bukan dengan menghadapkan diri pada pilihan-pilihan yang baru lagi. Persekutuan yang dibangun itu menjadi tugas kehidupan yang harus dihayatinya.

b. SEORANG PRIA DENGAN SEORANG WANITA

Penekanan pertama di sini adalah seorang dengan seorang: arti­nya orang seutuhnya dengan orang seutuhnya. Ini menggambarkan penerimaan terhadap satu pribadi seutuhnya. Yang diterima untuk bersekutu adalah pribadi, bukan kecantikan, kegantengan, kekayaan atau kepandaiannya saja. Ada beberapa catatan untuk penerimaan satu pribadi ini: Pertama, menerima pribadi itu berarti menerima juga seluruh latar belakang dan menerima seluruh masa depannya. Artinya, saya tidak dapat menerima pribadi itu hanya sebagai satu pribadi yang berdiri sendiri. Selalu, saya harus menerima juga orang tuanya, kakak dan adiknya, saudara-saudaranya, teman-teman­nya, bahkan juga bahwa dia pernah berpacaran atau bertunangan dengan si ini atau si itu. Lebih jauh lagi, saya juga harus meneri­ma segala sesuatu yang terjadi padanya di masa mendatang: syukur kalau ia menjadi semakin baik, tetapi juga kalau ia menjadi sema­kin buruk karena penyakit, karena ketuaan, karena halangan-halangan; saya masih tetap harus menerimanya. Yang ke dua, menerima pribadi berarti menerima dia apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kalau dipikir secara matematis: yang berseku­tu itu satu dengan satu; bukan 3/4 + 1/2, atau 1 + 6/8; lebih-le­bih lagi, bukan satu dengan satu setengah/satu seperempat/satu tiga perempat/apalagi dengan dua, tiga, dan seterusnya.

Dengan ungkapan lain lagi: Saya seutuhnya, mau mencintai dia seutuhnya/apa adanya. Ini berarti, saya mau menerima dia seutuh­nya, apa adanya; tetapi juga sekaligus saya mau menyerahkan diri seutuhnya kepadanya saja. Yang lain sudah tidak mendapat tempat lagi di hati saya, di pikiran saya. Hanya dia saja. Bahkan, anak-anakpun tidak boleh melebihi dia di hadapan saya, dalam pelayanan saya.

Penekanan ke dua pada seorang pria dengan seorang wanita.Yang ini kiranya cukup jelas. Hanya yang sungguh-sungguh pria dan yang sungguh-sungguh wanita yang dapat melaksanakan perkawinan secara katolik.

c. PERSETUJUAN PRIBADI

Hidup bersekutu itu terjadi karena setuju secara pribadi. Yang harus setuju adalah yang akan menikah. Dan persetujuan itu dilakukan secara pribadi, tidak tergantung pada siapapun, bahkan juga pada pasangannya. Maka, rumusannya yang tepat adalah: “Saya setu­ju untuk melangsungkan pernikahan ini, tidak peduli orang lain setuju atau tidak, bahkan tidak peduli juga pasangan saya setuju atau tidak”.

“Lalu bagaimana kalau pasangan saya kurang atau bahkan tidak setuju?. Dia hanya pura-pura setuju”. Kalau demikian, bukankah pihak yang setuju dapat dirugikan? Ya, inilah resiko cinta sejati. Cinta sejati di sini berarti saya setuju untuk mengikatkan diri dengan pasangan, saya setuju untuk menyerahkan diri kepada pasangan, saya setuju untuk menjaminkan diri pada pasangan; juga kalau akhirnya persetujuan saya ini tidak ditanggapi dengan baik/sesuai dengan kehendak saya. Yang menjadi dasar pemahaman ini adalah karena setiap mempelai membawa cinta Kristus sendiri. Kristuspun tanpa syarat mengasihi kita, Kristus tanpa syarat menerima kita dan memberikan DiriNya bagi kita.

d. PERSETUJUAN PRIBADI YANG TAK DAPAT DITARIK KEMBALI

Persetujuan pribadi untuk bersekutu itu nilainya sama dengan sumpah/janji dan bersifat mengikat seumur hidup. Sebab persetujuan itu mengikutsertakan seluruh kehendak, pikiran, kemauan, pera­saan. Pokoknya seluruh kepribadian. Maka dinyatakan bahwa perse­tujuan itu tidak dapat ditarik kembali. Sebab, penarikan kembali pertama-tama berarti pengingkaran terhadap diri sendiri, penging­karan terhadap kebebasannya sendiri, pengingkaran terhadap cita-cita dan kehendaknya sendiri. Tetapi, kemudian, juga berarti bah­wa pribadinya sudah tidak menjadi utuh kembali.

e. DAN YANG DIARAHKAN

Sebenarnya, pengalaman untuk membuat dan memelihara dan memper kembangkan persetujuan pribadi untuk bersekutu itu sudah harus dipupuk sejak masa pacaran Maka, ada banyak yang merasa bahwa persetujuan semacam itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Pokok­nya sudah beres, begitu. Semua sudah siap. Namun, kenyataannya persetujuan yang terjadi pada masa pacaran belumlah memenuhi sya­rat perkawinan. Dan benarlah, persetujuan yang dibangun pada masa pacaran baiklah persetujuan sebagai pacar. Persetujuan yang dibangun pada masa tunangan, baiklah persetujuan sebagai tunangan. Baru, setelah menikah, persetujuan itu boleh menjadi persetujuan sebagai suami-isteri. Maka, Kita lihat, misalnya adanya pembatasan-pembatasan dalam berpacaran, menunjukkan bahwa persetujuan itu belum bisa dilaksanakan sepenuhnya. Secara lebih positif dapat dikatakan bahwa persetujuan semasa pacaran lebih diarahkan untuk dapat melaksanakan janji pada saat perkawinan. Supaya janji pada saat perkawinan sungguh berisi dan memberi jaminan bagi masa de­pan baik pribadi maupun pasangannya.

Tiga kata ini juga dapat diartikan penegasan terhadap perkawi­nan sebagai awal dari kehidupan baru bagi kedua mempelai. Bagai­manapun oleh perubahan situasi manusia masih dapat berubah. Pene­gasan ini membantu para suami/isteri untuk melaksanakan isi persetujuan itu.

f. SALING MENCINTAI SEBAGAI SUAMI ISTERI

Pengalaman menunjukkan bahwa calon mempelai biasanya bingung dengan ungkapan ini. Mereka merasa sudah saling mencintai, kok masih ditanya soal ini. Masalahnya, sering tidak disadari bahwa cinta itu bermacam-macam. Ada cinta sebagai saudara, ada cinta sebagai sahabat, ada cinta karena belas kasihan, demikian pula ada cinta suami isteri. Tentu saja, yang namanya cinta sejati tidak pernah dapat berbeda-beda. Yesus menunjuk cinta sejati itu seba­gai orang yang mengorbankan nyawaNya bagi yang dicintaiNya. Dan Yesus memberi teladan dengan hidupNya sendiri yang rela sengsa­ra, bahkan sampai wafat untuk kita semua yang dicintaiNya. Na­mun, perwujudan cinta sejati itu ternyata bisa beranekaragam. Kekhasan dari cinta suami isteri adalah adanya keterikatan isti­mewa yang membuat mereka dapat menyerahkan diri seutuhnya bagi pasangannya. Dalam hal ini kiranya cinta suami isteri dapat diseja­jarkan dengan cinta yang diwujudkan dalam suatu kaul biara atau janji seorang imam. Bedanya, kalau kaul biara atau janji seorang imam tertuju kepada Tuhan di dalam umatNya; dalam perkawinan cinta itu tertuju kepada Tuhan di dalam pasangannya.

Yang mau dituju adalah membangun suasana saling mencintai sebagai suami/isteri. Maka, tidak hanya membabi buta dengan cintanya sendiri. “Pokoknya saya sudah mencintai”. Ini tidak cukup. Perjuangan seorang suami/isteri adalah di samping memelihara dan memperkembangkan cintanya, juga mengusahakan supaya pasangannya da­pat ikut mengembangkan cintanya sebagai suami/isteri.

g. PEMBANGUNAN KELUARGA

Hidup dalam persekutuan sebagai suami-isteri mau tidak mau mewujudkan suatu keluarga. Harus siap untuk menerima kedatangan anak-anak, harus siap untuk tampil sebagai keluarga, baik di hadapan saudara-saudara, di hadapan orang tua maupun di hadapan masya­rakat pada umumnya. Maka, membangun hidup sebagai suami-isteri membawa juga kewajiban untuk mampu menghadapi siapapun sebagai satu kesatuan dengan pasangannya. Mampu bekerjasama menerima, meme­lihara dan mendewasakan anak, mampu bekerjasama menerima atau da­tang bertamu kepada keluarga-keluarga lain, mampu ikut serta mem­bangun Gereja. Semuanya dilaksanakan dalam suasana kekeluargaan.

h. KESETIAAN YANG SEMPURNA

Setia dalam hal apa? Empat hal yang sudah diuraikan di atas, yakni persekutuan hidup antara seorang pria dan seorang wanita, memelihara dan memperkembangkan persetujuan pribadi, membangun sa ling mencintai sebagai suami isteri, membangun hidup berkeluarga yang sehat. Tidak melaksanakan salah satunya berarti sudah tidak setia. Apalagi kalau kemudian mengalihkan perhatiannya kepada se­suatu yang lain: membangun persekutuan yang lain, membuat perse­tujuan pribadi yang lain, membangun hubungan saling mencintai sebagai suami isteri dengan orang lain, membangun suasana kekeluargaan dengan orang lain (juga saudara): Ini dosanya besar sekali

Satu pedoman untuk kesetiaan yang sempurna adalah Kristus sen­diri. Ia setia kepada tugas perutusanNya, Ia setia kepada Bapa­Nya, Ia setia kepada manusia, kendati manusia tidak setia kepadaNya.

i. TAK DAPAT DIPISAHKAN OLEH SIAPAPUN

Persekutuan perkawinan terjadi oleh dua pihak, yakni oleh sua­mi dan isteri. Maka, tidak ada instansi atau siapapun yang akan dapat memutuskan persetujuan pribadi itu. Bahkan suami isteri itu sendiripun tidak dapat memutuskannya, sebab persekutuan itu dibangun atas dasar kehendak Tuhan sendiri. Dan Tuhanlah yang merestuinya. Maka, pemutusan persekutuan perkawinan bisa dipandang sebagai pemotongan kehidupan pribadi suami/isteri. Ini bisa be­rarti pembunuhan, karena pribadi itu dihancurkan.

j. KECUALI OLEH KEMATIAN.

Pengecualian ini didengar tidak enak. Namun, nyatanya, misteri kematian tidak terhindarkan. Karena kematian yang wajar, persetu­juan pribadi itu menjadi batal, karena pribadi yang satu sudah tidak mampu lagi secara manusiawi melaksanakan persetujuannya.


SAKRAMEN DAN BUKAN SAKRAMEN


Perkawinan yang terlaksana antar dua orang yang sudah dibaptis (sah), disebut sakramen. Menjadi sakramen karena masing-masing adalah murid-murid Kristus. Pembangunan persekutuan itu terlaksana sesuai dengan teladan Kristus (seharusnya). Dan masing-masing bisa dengan bangga mengatakan, saya mengasihi seperti Kristus sendiri.

Kalau salah satu pihak belum dibaptis (sah), perkawinan tak dapat disebut sakramen. Gampangnya, orang yang tidak mengimani Kristus tak dapat dituntut untuk bertindak seperti Kristus, menghayati bahwa Kristus mengasihinya dan mengutusnya untuk ikutserta dalam karya kasihNya.


PELAYANAN GEREJA UNTUK PERKAWINAN CAMPUR

Beberapa Pemahaman dasar

  1. Gereja Katolik senantiasa mengharapkan putra-putrinya dapat menjalani hidupnya sebagai umat beriman dengan sebaik-baiknya. Termasuk dalam membangun hidup berkeluarga.
  2. Dalam rangka itulah Gereja Katolik sangat mendukung dan bersyukur apabila putra-putrinya dapat membangun keluarga secara katolik.
  3. Namun, Gereja Katolik juga menyadari, khususnya di Indonesia ini, bahwa cita-cita mulia keluarga yang utuh katolik tidak selalu dapat dilaksanakan. Ada aneka sebab yang mendasarinya.
  4. Sehubungan dengan pembangunan keluarga yang tidak utuh katolik, pertama-tama dapat dikatakan bahwa Gereja Katolik tidak menyediakan satu hukum yang berlaku umum. Gereja Katolik berusaha untuk dapat membantu putra-putrinya yang terpaksa harus membangun keluarga atau hidup dalam keluarga yang tidak utuh katolik.
  5. Pelayanan Gereja Katolik pada awal pembangunan hidup berkeluarga dilaksanakan dengan mengusahakan agar iman pihak katolik tidak dirugikan, tidak dibahayakan (jangan masukkan kami ke dalam pencobaan), dapat tetap berkembang. Penilaian terhadap hal ini dilakukan ketika diadakan penyelidikan kanonik. Petugas penyelidikan kanonik akan menanyakan secara pribadi dan bersama-sama kepada calon mempelai aneka hal yang kiranya dapat membantu untuk memperjelas status hidup beriman yang akan berlangsung kemudian. Tentu saja, petugas yang bijaksana tidak hanya memikirkan kepentingan pihak katolik, tetapi juga kepentingan pihak non-katolik.
  6. Menanggapi keluarga-keluarga yang tidak utuh katolik, Gereja Katolik mengusahakan terlaksananya pelayanan, khususnya bagi pihak yang katolik, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Dengan kata lain, tidak ada rumus yang baku untuk hal ini.



Wednesday, February 22, 2006

Pembaharuan Janji Nikah

Bisa digunakan pada saat hari ulang tahun perkawinan.

Biasanya dilaksanakan sesudah Homili


Pembaharuan Janji (para) Suami:

SUAMI Isteriku, di hadapan anak-anak, umat beriman, imam, dan Tuhan, karena cinta Tuhan yang telah kuterima, juga melalui engkau, dengan penuh sesal atas segala kesalahanku selama ini, terutama kepadamu, aku berjanji akan semakin mencintaimu dalam suka dan duka, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, baik di waktu engkau sehat maupun di waktu engkau sakit. Semoga Tuhan memberkati niat baikku ini.

ISTERI Terima kasih.

Pembaharuan Janji (para) Isteri:

ISTERI Suamiku, di hadapan anak-anak, umat beriman, imam, dan Tuhan, karena cinta Tuhan yang telah kuterima, juga melalui engkau, dengan penuh sesal atas segala kesalahanku selama ini, terutama kepadamu, aku berjanji akan semakin mencintaimu dalam suka dan duka, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, baik di waktu engkau sehat maupun di waktu engkau sakit. Semoga Tuhan memberkati niat baikku ini.

SUAMI Terima kasih.

(dapat dilanjutkan dengan saling memeluk)

Suami-Isteri Bapa yang penuh kasih dan Penyayang, Semoga berkat rahmatmu, kami suami-isteri, mampu meneladan hidup Bapa Yosef dan Bunda Maria. Sehingga hanya kehendak dan rencanaMu sajalah yang terjadi dan terlaksana dalam rumah tangga kami. Kami mohon ....

Umat Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

Suami-Isteri Semoga suami-isteri katolik sungguh dapat memberi kesaksian hidup yang nyata di dalam masyarakat dengan hidup setia, saling berkorban, saling menerima apa adanya, memperhatikan mereka yang kecil, yang sakit dan yang menderita, serta tabah dalam menghadapi percobaan hidup seperti Bapa Yosef dan Bunda Maria telah memberi contoh kepada kami. Kami mohon ....

Umat Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

Suami-Isteri Kami berdoa untuk pasangan suami-isteri yang mengalami krisis dalam relasinya sebagai suami-isteri. Semoga berkat doa dan bantuan Bapa Yusuf dan Bunda Maria, mereka dapat menemukan jalan terang sesuai dengan kehendakMu sendiri. Kami mohon ....

Umat Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

BAPAK DAN IBU UNTUK ANAK-ANAK: Kami bapak ibu, di hadapan imam dan para hadirin yang hadir di sini, berjanji akan menjadi bapak ibu yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada kami. Kami akan mendampingi mereka dengan penuh cinta, agar mereka berkembang menjadi orang katolik yang dewasa, berguna bagi Gereja dan negara.

ANAK-ANAK: Terima kasih bapak dan ibu. Semoga Tuhan memberkati niat baik bapak dan ibu.

Anak-anak Ya Yesus, Tuhan dan teladan kami, Engkau telah sudi tunduk menaati Santo Yosef dan Bunda Maria. Bukalah hati segenap keluarga GerejaMu, agar mampu melihat dan menghayati nilai ketaatan serta hormat bakti. Kami mohon ....

Umat Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

Anak-anak Engkau mengasihi orangtuaMu dan orang tuaMu pun juga mengasihi Dikau. Tanamkanlah benih cinta kasih dan damai di dalam seluruh keluarga bangsa manusia yang tercerai berai oleh banyak perselisihan, sebab hanya Engkaulah yang sanggup memperbaharui dan memperdamaikan umat manusia. Kami mohon ....

Umat Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

Anak-anak Engkau telah memberi teladan melakukan kerja tangan cukup lama di Naza­ret. Berkatilah para karyawan yang berjerih payah bekerja demi keluarga­nya serta dampingilah para penganggur dalam usahanya mencari pekerjaan. Kami mohon ....

Umat Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

Anak-anak Ya Yesus, semoga dengan mengikuti teladanMu menghayati hidup dalam kebersamaan keluarga, Kauantar kami memasuki Keluarga Allah yang bahagia nan abadi. Kami mohon ....

Umat Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

ANAK KEPADA BAPAK DAN IBU: Di hadapan imam dan para hadirin yang hadir di sini, kami, anak-anak, berjanji akan menjadi anak-anak yang baik, patuh kepada orang tua, menghormati serta mencintai orang tua kami. Dan kami berjanji pula akan mengembangkan diri kami sesuai dengan panggilan kami masing-masing.

AYAH-IBU-ANAK-ANAK: Semoga Tuhan memberkati niat baik kita semua.

DOA UNTUK KELUARGA

Imam Saudara-saudari terkasih, bersama paus Yohanes Paulus II, marilah kita berdoa bagi para suami, para isteri, para orang tua, dan bagi keluarga-keluarga.

Bersama


Ya Tuhan, Allah kami, daripadaMulah setiap keluarga di surga dan di bumi ini berasal.

Ya Bapa, Engkaulah Cinta dan Kehidupan. Melalui Yesus PuteraMu, yang dilahirkan dari rahim seorang wanita dan melalui Roh Kudus, sumber dari cinta kasih ilahi,

Semoga setiap keluarga di bumi ini dalam setiap keturunannya menjadi penampakan kasih dan kehidupan yang sejati.

Semoga rahmatMu menuntun pikiran dan perbuatan setiap suami dan isteri untuk kebaikan keluarga mereka dan keluarga-keluarga di seluruh dunia.

Semoga Cinta kasih, yang diteguhkan dengan rahmat sakramen perkawinan,

tampil lebih kuat daripada segala kelemahan dan godaan sehingga keluarga-keluarga dapat melampauinya.

Dengan perantaraan Keluarga Kudus Nazaret, Semoga Gereja sungguh menghasilkan buah berlimpah dalam menjalankan karya perutusannya dalam keluarga dan melalui keluarga-keluarga.

Demi Kristus, Tuhan kami, yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan, sekarang dan sepanjang segala abad.

U Amin.



DOA UMAT


I: Saudara-saudara terkasih, bapak ..... dan ibu .... telah membaharui perjanjian nikah di hadapan Allah dan di hadapan kita semua. Marilah kita mendoakan mereka, agar mereka tetap bahagia dalam lindungan Tuhan.

L: Semoga mereka menghayati hidup perkawinan dalam cinta kasih dan damai, sehingga rahmat dan kebaikan Kristus bersinar dari rumah tangga mereka. Kami mohon...

U: Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan

L: Semoga mereka tetap mendasarkan keluarganya atas keyakinan keagamaan mereka, sehingga teladan hidup mereka mendekatkan orang lain kepada Allah.

Kami mohon...

U: Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L: Semoga cinta kasih mereka diberkati oleh Tuhan dengan kurnia yang ber­limpah, sehingga anak, cucu, dan buyut yang dianugerahkan kepada mereka sungguh-sungguh menggembirakan hati orang tuanya.

Kami mohon...

U: Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L: Ya Tuhan, pemberi hidup dan sumber selamat, berkatilah bapak dan ibu yang berbahagia ini dan hiburlah hati mereka dalam anak cucunya. Kami mohon...

U: Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L: Semoga mereka tetap sehat walafiat dan sanggup menjalankan tugasnya dalam masyarakat, sehingga mereka berjasa bagi sesama, dan keluarga mereka aman sentosa. Kami mohon...

U: Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L: Ya Tuhan, pelindung dan penyelamat kami, tunjukkanlah belas kasihMu kepada kami semua dan limpahilah keluarga-keluarga kami dengan kurniaMu.

Kami mohon...

U: Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L: Ya Tuhan, gembala dan penghibur umat, bahagiakanlah arwah nenek moyang keluarga ini dan terimalah mereka dalam perjamuan nikah PuteraMu.

Kami mohon...

U: Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

I: Ya Tuhan, Bapa yang mahabaik, Engkaulah sumber cinta kasih. Semoga bapak dan ibu yang berbahagia ini tumbuh dalam cinta dan hidup dalam kerukunan dan damai sampai akhirnya Engkau memanggil mereka kepada kebahagiaan abadi di surga.

Demi Kristus, pengantara kami.

SAKSI PERKAWINAN - Catatan

SAKSI-SAKSI PERKAWINAN

(sebuah usul gagasan)


Menjadi saksi perkawinan Katolik bukan hanya sekedar menyaksikan upacara Gerejani yang berlangsung. Menjadi saksi perkawinan Katolik sekaligus memberi kesaksian nyata tentang hidup Gereja yang mau menopang dan mendukung hidup perkawinan yang baru itu. Maka saksi boleh dikata merupakan teman melangkah dalam membangun keluarga. Bisa dibayangkan tugas saksi itu serupa dengan bapa/ibu permandian. Oleh karena itu, perlu diperhatikan dalam memilih saksi:

  1. Saksi sebaiknya lebih tua daripada kedua mempelai
  2. Saksi sebaiknya orang yang kenal akrab dengan kedua mempelai, namun sekaligus juga hendaknya mempunyai wibawa terhadap kedua mempelai. Maksudnya adalah, supaya kalau diperlukan, dapat membantu keluarga baru ini menghadapi masalahnya.
  3. Saksi sebaiknya orang yang bersedia juga senantiasa mendoakan kedua mempelai. Maksudnya adalah: agar antara keluarga saksi dan keluarga mempelai nampaklah kehidupan Gereja, yang saling mendoakan, yang saling mendukung dalam doa.
  4. Antara keluarga baru ini dengan para saksi sebaiknya tetap ada kontak. Kalaupun berjauhan, dapat kontak lewat surat. Maksudnya adalah, supaya persekutuan dalam iman tetap dapat dipelihara.
  5. Kontak itu juga perlu, karena saksi juga punya tanggungjawab agar keluarga baru itu sungguh menghayati hidup Katoliknya. Maka, saksi dapat setiapkali menanyakan juga keadaan anak-anak dari keluarga baru itu: misalnya apakah sudah komuni I, krisma, atau lainnya. Demikian juga dari pihak keluarga baru, diharapkan menyampaikan situasi umum keluarga kepada saksi. Kalau anaknya ada yang dipermandikan, menerima komuni I, krisma, atau bahkan perkawinan, saksi sebaiknya diberitahu. Syukur kalau bisa datang. Minimal bisa mendoakan dari jauh.
  6. Saksi sebaiknya Katolik, bisa dijadikan teladan, sudah menerima krisma dan Ekaristi.
  7. Masing-masing mempelai sebaiknya mempunyai saksinya sendiri.
  8. Saksi boleh pria semua atau wanita semua.
  9. Sebaiknya saksi bukan suami-isteri, atau saudara sekandung. Saudara ipar masih diperkenankan.
  10. Saksi sebaiknya sungguh kenal dengan kedua mempelai, karena saksilah yang akan menyerahkan mereka kepada pastor dalam keadaan tak ada halangan untuk menikah dan pantas menerima sakramen.



Sunday, February 12, 2006

Persiapan

PERSIAPAN
  • Mempelai berdua, diapit oleh dua orang saksi dan orang tua/wali berdiri di pintu Gereja. Mempelai wanita berada di sebelah kanan mempelai pria. Disamping mempelai berdiri orangtua/wali. Disamping orangtua berdiri para saksi.
  • Imam beserta putra altar menyambut di pintu Gereja. Cincin diberikan kepada putra altar.
I : Mempelai berdua dan saudara sekalian, selamat datang di gereja/kapel ini. Semoga rahmat damai sejahtera dan kasih Allah berlimpah-limpah atas kita sekalian.
U : Sekarang dan selama-lamanya.

P E N Y E R A H A N M E M P E L A I :
Wakil Keluarga:
WK: Rama, sebagai wakil keluarga kedua mempelai perkenankanlah kami menyerahkan putera dan puterinya, yakni saudara ............ dan saudari ........... untuk dimohonkan berkat bagi perkawinan mereka.
I : Terima kasih atas kepercayaan bapak dan ibu kepada Gereja untuk melangsungkan tugas yang suci ini. Semoga dengan perantaraan Gereja, pernikahan mereka diteguhkan dan diberkati oleh Allah yang Mahakuasa. Mempelai berdua yang berbahagia, atas nama Gereja saya akan memohonkan berkat Tuhan untuk menyucikan cinta kasih anda berdua dalam membentuk keluarga yang baru dan sejahtera. Sekarang persiapkanlah dirimu dengan hati yang suci agar pantas menerima rahmat Tuhan dalam sakramen ini.

Imam memerciki kedua mempelai dan rombongan dengan air suci dengan berkata:

I : Semoga rahmat Tuhan turun kepada saudara agar dengan hati yang suci menghadap kepadaNya dalam upacara yang kudus ini.

Kemudian, semua berarak menuju ke altar. Selama perarakan, koor menyanyikan LAGU PERARAKAN.

Saturday, February 11, 2006

Pembukaan

PEMBUKAAN

Sesampainya di altar, semua menempatkan diri di tempatnya.


I : Demi nama Bapa dan Putera, dan Roh Kudus.

U: Amin.

I : Tuhan sertamu

U: dan sertamu juga.


Kemudian Imam memberi pengantar singkat.


UPACARA TOBAT Semua berlutut.

Pilihan 1

I : Tuhan Yesus Kristus, Engkau menganugerahkan kepada kami kekuatan hati, cinta kasih, dan penguasaan diri.

Tuhan, kasihanilah kami.

U : Tuhan, kasihanilah kami.

I : Engkau memancarkan cahaya hidup yang tak dapat mati melalui Injil yang diberitakan kepada kami.

Kristus, kasihanilah kami.

U : Kristus, kasihanilah kami.

I : Engkau sanggup memelihara panggilan kudus dalam hati kami, yang menaruh seluruh kepercayaan kepadaMu.

Tuhan, kasihanilah kami.

U : Tuhan, kasihanilah kami.


Pilihan 2

I : Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil kami dan memberi teladan supaya kami mengikuti jejakMu.

Tuhan, kasihanilah kami.

U : Tuhan, kasihanilah kami.

I : Engkau menanggung dosa kami dalam tubuhMu pada kayu salib, supaya kami mati terhadap dosa dan hidup suci.

Kristus, kasihanilah kami.

U : Kristus, kasihanilah kami.

I : Engkau mencintai umatMu dan menyerahkan diri supaya kamipun saling mencintai.

Tuhan, kasihanilah kami

U : Tuhan, kasihanilah kami.


Pilihan 3

I : Tuhan Yesus Kristus, Engkau tetap setia dan selalu membuktikan cintaMu kepada kami. Tuhan, kasihanilah kami.

U : Tuhan, kasihanilah kami.

I : Engkau murah hati, dan memberi harapan baik kepada kami. Kristus, kasihanilah kami.

U : Kristus, kasihanilah kami.

I : Engkau penebus kami yang memperkuat hati kami dan melindungi kami terhadap yang jahat. Tuhan, kasihanilah kami.

U : Tuhan, kasihanilah kami.


DOA PEMBUKAAN


Pilihan 1

I : Ya Allah yang mahasetia, Engkau telah menguduskan cintakasih suami isteri, dan mengangkat perkawinan, menjadi lambang persatuan Kristus dengan Gereja. Semoga kedua mempelai ini, semakin menyadari kesucian hidup berkeluarga, dan berusaha menghayatinya dalam suka dan duka. Demi Yesus Kristus, PuteraMu dan Pengantara kami, yang bersama Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang segala masa. Amin.


Pilihan 2

I : Ya Allah, pencipta dan penebus kami. Engkau menghendaki agar pria dan wanita, membangun keluarga yang bahagia. Kedua hambaMu ini sudah siap memasuki bahtera perkawinan. Berkatilah cinta kasih mereka, supaya tahan uji dalam untung dan malang, dan anugerahkanlah kepada mereka, keturunan yang dapat dibanggakan. Demi Yesus Kristus PuteraMu dan Pengantara kami, yang bersama Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang segala masa. Amin.


Pilihan 3

I : Tuhan yang mahamurah, dengarkanlah permohonan kami dan curahkanlah rahmatMu kepada kedua mempelai ini. Teguhkanlah usaha mereka untuk saling mencintai dengan setia, dan bersama-sama menyumbangkan jasa bagi kesejahteraan masyarakat. Demi Yesus Kristus, PuteraMu dan Pengantara kami, yang bersama Dikau dan dalam persekutuan dengan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Pilihan 4

I : Allah yang mahakuasa, kedua mempelai ini akan Kausatukan dalam sakramen perkawinan. Kami mohon, semoga mereka saling membantu untuk memperdalam iman dan membesarkan anak-anak mereka menjadi orang katolik sejati. Demi Yesus Kristus, PuteraMu dan Pengantara kami, yang bersama Dikau dan dalam persekutuan dengan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Friday, February 10, 2006

Liturgi Sabda

LITURGI SABDA

MENCARI TEMA BACAAN:

(Silakan memilih 1 bacaan I dan 1 bacaan Injil dari salah satu TEMA)


TEMA 1

PUJIAN CINTA

BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab Kidung Agung 2:8-10.14.16a; 8:6-7a

Dengar! Itulah kekasihku, sungguh ia datang. Ia meloncat di atas gunung, ia melonjak di atas bukit. Kekasihku berlari cepat bagaikan kijang, lincah laksana rusa. Lihat! Ia berdiri di balik tembok, ia mengintai dari tingkap, mengintip dari jendela. Kekasihku angkat bicara, katanya kepadaku: “Bangunlah, temanku! Datanglah, manisku! Merpatiku di celah padas, di gua pada pinggir jurang. Tunjukkanlah parasmu kepadaku, perdengarkanlah suaramu! Sebab suaramu sungguh merdu! Dan jelita nian parasmu.” Kekasihku milikku, dan aku milik dia. Ia berkata kepadaku: “Tuliskan daku pada dadamu bagaikan cap, tempelkan daku pada tanganmu bagaikan meterai.”Sebab kuat bagaikan mautlah cinta, gigih laksana pratalalah cemburu. Nyalanya ibaratkan nyala api, bagaikan pijar Tuhan. Air yang banyak tidak kuasa memadamkan cinta, tiadapun sungai-sungai dapat menghanyutkannya. Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 2: Pembacaan dari surat pertama rasul Yohanes: 4:7-12

Saudara-saudara yang terkasih, marilah kita saling mengasihi. Cinta kasih itu berasal dari Allah, maka setiap orang yang mengasihi orang lain, berasal dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi orang lain, tidak mengenal Allah, sebab Allah dan cinta kasih itu satu dan sama saja. Kasih Allah dinyatakan kepada kita dan dibuktikan oleh Allah dengan mengutus PuteraNya yang tunggal ke dunia, agar kita hidup olehNya. Bukti kasih sejati terdapat bukan dalam kita yang mengasihi Allah, melainkan dalam Allah yang menyatakan kasihNya untuk kita dan mengutus PuteraNya untuk menyilih dosa kita. Saudaraku yang terkasih, kalau Allah mengasihi kita secara demikian, kitapun harus saling mengasihi satu sama lain. Tak seorangpun pernah melihat Allah. Namun, kalau kita saling mengasihi, maka Allah tetap tinggal di dalam kita, dan kasihNya menjadi sempurna di dalam diri kita. Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 3: Pembacaan dari surat pertama rasul Paulus kepada umat di Korintus 12:31-13:8a

Saudara-saudara, carilah karunia-karunia yang paling baik. Tetapi saya menunjukkan kepadamu suatu jalan yang lebih baik lagi. Sekiranya saya dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan malaikat, tetapi tidak mempunyai cinta kasih, saya seperti gong yang bergaung atau canang yang gemerincing. Sekiranya saya dapat bernubuat dan menyelami segala rahasia dan semua pengetahuan; sekiranya iman saya sempurna sehingga dapat memindahkan gunung, tetapi tidak mempunyai cinta kasih, saya belum apa-apa. Sekiranya saya membagi-bagikan seluruh milik saya, dan bahkan menyerahkan tubuh saya untuk dibakar, tetapi tidak mempunyai cinta kasih, saya tidak beruntung sedikitpun. Cinta kasih itu sabar, murah hati, tidak sombong, dan tidak bertindak kurang sopan. Cinta kasih tidak mencari untungnya sendiri, tidak cepat marah dan tidak mengingat-ingat kejahatan. Cinta kasih tidak bersukacita atas kelaliman, tetapi ikut bergembira atas kebenaran. Cinta kasih menerima segala sesuatu, percaya akan segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Cinta kasih tiada berkesudahan. Demikianlah sabda Tuhan.

BACAAN INJIL :

Pilihan 1: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Yohanes 15:9-12

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-muridNya: “Seperti Bapa mengasihi Aku, demikian pula aku mengasihi kamu. Tinggallah dalam kasihKu. Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu tinggal dalam kasihKu. Aku juga menuruti perintah BapaKu, dan karena itu tinggal dalam kasihNya. Ini Kukatakan kepadamu, supaya suka citamu menjadi sempurna. Inilah perintahKu, bahwa kamu harus saling mengasihi seperti Aku mengasihi kamu.” Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 2: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Matius 22:35-40

Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, hendak mengujiNya: “Guru, perintah manakah yang terbesar dalam Taurat?” Yesus menjawab: “Kasihilah Allah, Tuhanmu, dengan segenap hatimu, dengan seluruh jiwamu dan dengan seluruh akal budimu. Inilah perintah yang terbesar dan yang pertama. Dan yang kedua sama dengan ini, yakni: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab nabi-nabi.” Demikianlah sabda Tuhan.


TEMA 2

PERJANJIAN SETIA

BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab nabi Yeremia 31:31-32a.33-34a

Demikianlah firman Tuhan: “Akan datang masanya, Aku akan mengikat perjanjian baru dengan keluarga Israel dan keluarga Yehuda. Bukan seperti perjanjian yang telah Kuikat dengan leluhur mereka, ketika Aku membimbing mereka dan menghantar mereka keluar dari negeri Mesir. Tetapi perjanjian yang akan Kuadakan dengan keluarga Israel ialah: Aku akan menempatkan hukumKu dalam batin mereka, dan akan menulisnya dalam hati mereka. Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umatKu. Maka tidak perlu lagi seorangpun mengajar sesama atau saudaranya dengan berkata ‘kenallah Tuhan’, karena mereka semua mengenal Aku, dari yang terkecil sampai yang terbesar.

Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 2: Pembacaan dari surat rasul Paulus kepada umat di Efesus 5:2a.21-33

Saudara-saudara, hiduplah dalam cinta kasih seperti Kristus telah mencintai kita dan menyerahkan diriNya untuk kita. Hendaknya kamu tunduk satu kepada yang lain karena hormat kepada Kristus. Para isteri hendaknya taat kepada suaminya, seolaholah kepada Tuhan. Sebab suamilah kepala atas isteri, sebagaimana Kristus kepala atas Gereja. Dialah penyelamat tubuhNya. Dan sebagaimana Gereja taat kepada Kristus, begitupun isteri hendaknya taat kepada suaminya dalam segala hal. Suami hendaknya mencintai isterinya sebagaimana Kristus mencintai Gereja. Ia menyerahkan diri bagi Gereja untuk menguduskannya dengan pembasuhan air dan sabda kehidupan. Dengan demikian Kristus memperlihatkan GerejaNya mulia, tak bercela, tanpa kerut dan cacat lain, tetapi kudus murni. Begitu pula suami harus mencintai isterinya seperti dirinya sendiri, karena yang mencintai isterinya mencintai dirinya sendiri. Tak seorangpun pernah membenci tubuhnya. Sebaliknya ia memelihara dan menjaganya seperti Kristus terhadap Gereja. Kita adalah anggota tubuh Kristus. Karena itu pria harus meninggalkan ibu bapa dan mengikatkan diri pada isterinya. Dan keduanya akan bersatupadu jiwa raganya. Rahasia yang diwahyukan ini sungguh agung, yang kumaksudkan ialah hubungan Kristus dengan Gereja. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri, dan isteri hendaklah menghormati suaminya. Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 3: Pembacaan dari surat Rasul Paulus kepada umat di Roma 8:31b-35.37-39.

Saudara-saudara, jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Dia malah tidak sayang akan PuteraNya sendiri, tetapi menyerahkanNya untuk kita semua. Bagaimana mungkin Dia tidak menganugerahkan semuanya bersama PuteraNya kepada kita? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah yang membenarkan. Siapakah yang akan menghukum mereka? Yesus Kristuskah? Padahal Dia telah wafat dan bangkit kembali. Ia duduk di sisi kanan Allah dan malah menjadi pengantara kita. Apakah yang dapat memisahkan kita dari cinta Kristus? Sengsara? Penindasan? Penganiayaan? Kelaparan? Ketelanjangan? Bahaya? Atau pedang? Dalam segalanya itu kita akan menang dengan jaya karena kekuasaan Kristus yang mencintai kita. Aku yakin bahwa baik maut maupun hidup, malaekat maupun penguasa, halhal sekarang maupun yang kemudian, kekuatan yang di atas maupun yang di bawah, atau makhluk manapun juga, tidak akan dapat memisahkan kita dari cinta Allah, yang dinyatakan dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 4: Pembacaan dari kitab Wahyu 19:1-9a

Saya, Yohanes, mendengar suara nyaring himpunan besar di sorga, katanya: “Alleluya! Pokok keselamatan, kemuliaan dan kekuasaan ialah Allah kita. “Maka terdengarlah suara dari takhta Allah: “Pujilah Allah kita, hai sekalian hambaNya, semua yang takwa, baik kecil maupun besar!” Lalu saya mendengar suara orang banyak, seperti gelora air bah, dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Alleluya! Sebab Tuhan, Allah kita, yang mahakuasa, sudah menjadi raja. Marilah kita bersuka cita dan bersorak-sorai, marilah kita memuliakan Tuhan. Hari pernikahan Anak domba telah tiba, dan mempelaiNya sudah siap berhias. MempelaiNya telah diperkenankan memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan putih bersih. Kain lenan itu melambangkan perbuatan baik para kudus.” Lalu malaekat Tuhan berkata kepadaku: “Tulislah: Berbahagialah orang yang diundang ke perjamuan nikah Anak-domba.” Demikianlah sabda Tuhan.

BACAAN INJIL :

Inilah Injil Yesus Kristus menurut santo Matius 19:3-6

Pada suatu hari orang-orang Parisi datang kepada Yesus hendak mencobai Dia. Mereka bertanya: “Bolehkah orang menceraikan isterinya, dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Allah yang menciptakan manusia pada awal mula, menjadikan mereka pria dan wanita? Dan Allah berfirman: Karena itu pria akan meninggalkan ibu bapanya dan mengikatkan diri pada isterinya. Dan keduanya akan hidup bersatu padu jiwa raganya. Jadi, mereka bukan lagi dua, melainkan satu saja. Sebab itu, yang telah disatukan oleh Allah, jangan diceraikan oleh manusia.” Demikianlah sabda Tuhan.


TEMA 3

KEBAHAGIAAN ITU

BERKAT TUHAN DAN TANGGUNGJAWAB KITA

BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab Putera Sirakh 26:14.16-21

Berbahagialah suami yang mempunyai isteri yang baik; umur hidupnya berlipat dua. Isteri berbudi menggembirakan suaminya, sehingga ia mencapai umur tua dengan tenang. Isteri yang baik merupakan kurnia luhur, harta pusaka yang dianugerahkan kepada orang takwa. Kaya atau miskin, hatinya senang, roman mukanya tetap riang gembira. Keelokan isteri yang rajin menyenangkan suami, dan kearifan isteri menguatkan tangan suaminya. Isteri yang tidak cerewet sungguh anugerah Tuhan, dan tak ternilai isteri berpendidikan baik. Isteri sopan merupakan berkat dan rahmat, dan tak bertaralah isteri yang suci murni. Laksana matahari yang terbit di atas gunung Tuhan, demikianlah keelokan isteri yang baik menyinari rumah tangganya. Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 2: Pembacaan dari kitab Kejadian: 24:48-51.58-67

Ketika Abraham sudah tua, ia mengutus hambanya ke kota Aram di Mesopotamia untuk mencarikan Iskak seorang isteri. Sesampai di rumah Betuel, kemenakan Abraham, hamba itu berkata: “Terpujilah Tuhan, Allah tuanku Abraham, sebab Ia telah membimbing saya untuk meminang Ribka menjadi isteri Iskak. Maka, jikalau tuan mau menunjukkan kasih setia kepada Abraham, sudilah tuan mengatakannya. Tetapi jikalau berkeberatan, sudilah tuan mengatakannya terus terang, supaya saya mendapat kepastian”. Lalu Betual dan Laban, ayah dan saudara Ribka menjawab: “Semua ini sudah diatur oleh Tuhan. Maka bukan hak kami untuk mengabulkan atau menolak permintaanmu. Ribka sudah siap; bawalah dia pulang menjadi isteri Iskak, putera Abraham, sesuai dengan firman Tuhan”. Lalu mereka memanggil Ribka dan bertanya: “Maukah engkau pergi bersama orang ini?” Jawabnya: “Ya, aku mau”, Maka mereka melepas Ribka pergi dan inang pengasuhnya, bersama dengan rombongan hamba Abraham. Mereka memberkati Ribka, katanya: “Semoga keturunanmu menjadi berjuta-juta banyaknya, dan semoga mereka mengalahkan semua musuhnya” Lalu Ribka bersama dengan hamba-hambanya berkemas-kemas untuk berangkat. Mereka naik unta dan mengikuti hamba Abraham. Demikianlah Ribka dibawa pulang oleh hamba itu. Pada waktu itu Iskak datang dari sumur Lakhai Roi; ia tinggal di tanah Negeb. Menjelang senja Iskak keluar untuk berjalan-jalan di padang. Ia melayangkan pandangannya melihat sebuah kafilah mendekat. Ribka juga melayangkan pandangannya dan melihat Iskak. Segera ia turun dari untanya dan bertanya kepada hamba Abraham: “Siapakah orang itu yang berjalan di padang menuju kita?” Jawab hamba itu: “Itulah tuan saya”. Lalu Ribka mengenakan tudungnya dan menyelubungi dirinya. Hamba itu melaporkan kepada Iskak bagaimana ia berhasil melaksanakan tugasnya. Maka Iskak mengantar Ribka ke dalam kemahnya. Ia mengambil Ribka menjadi isterinya dan sangat mencintai dia, sehingga ia terhibur atas kematian ibunya. Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 3: Pembacaan dari kitab Tobit: 8:5-10

Pada malam perkawinannya, Tobia berkata kepada Sara: “Kita ini keturunan orang suci. Kita tidak boleh kawin seperti orang yang tak mengenal Allah”. Maka mereka berdoa, agar tetap sehat walafiat. Kata Tobia: “Terpujilah Engkau, Allah leluhur kami. Hendaknya langit dan bumi memuji Engkau: mata air, sungai dan laut beserta segala makhluk yang hidup di dalamnya. Engkau telah membentuk Adam dari tanah dan memberikan Hawa kepadanya sebagai teman hidup. Engkau tahu, ya Tuhan, bahwa aku tidak mengawini Sara ini karena dorongan hawa nafsu. Aku mengawini dia untuk memperoleh keturunan, agar namaMu terpuji untuk selama-lamanya.” Lalu Sara juga berdoa: “Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami. Semoga kami tetap sehat walafiat dan bersama-sama mencapai umur panjang.” Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 4: Pembacaan dari surat rasul Paulus kepada umat di Kolose 3:12-17

Saudara-saudara, kamulah umat pilihan Allah; sebab Ia telah menguduskan dan mengasihi kamu. Maka, hendaknya kamupun berbelaskasihan serta bersikap ramah tamah dan rendah hati, lemah lembut lagi sabar. Hendaknya kamu tanggung-menanggung dan suka mengampuni, bila hatimu disakiti. Sebagaimana Kristus memberi ampun kepadamu, demikian pula kamu hendaknya. Utamakanlah cinta kasih, tali pengikat semuanya itu dalam kesatuan yang sempurna. Biarlah damai dan sejahtera Kristus melimpah dalam hati, sebab kamu dipanggil untuk hidup berdamai dalam satu tubuh. Demikian pula hendaknya kamu tahu berterima kasih. Semoga sabda Kristus berakar dan bertumbuh subur dalam hatimu. Hendaknya kamu saling mengajar dan menasihati dengan bijaksana. Lagukanlah Mazmur dan madah pujian bagi Allah, terdorong oleh rahmat Roh Kudus. Apapun yang kamu lakukan dengan kata maupun perbuatan, lakukanlah itu demi Tuhan Yesus Kristus, dan dengan perantaraanNya bersyukurlah kepada Allah Bapa kita. Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 5: Pembacaan dari surat pertama rasul Yohanes 3:18-24

Anak-anakku terkasih, marilah kita saling mengasihi, bukan dengan kata-kata belaka, melainkan dengan perbuatan yang nyata. Dengan demikian kita tahu bahwa kita berasal dari kebenaran; dan kita dapat menghadap Allah dengan hati yang tenang. Sebab jika kita dihukum oleh hati kita, Allah lebih besar daripada hati kita, dan Ia mengetahui segala sesuatu. Kekasih-kekasihku, jika hati kita tidak menghukum kita, maka kita dapat menghampiri Allah penuh kepercayaan; apa saja yang kita minta akan kita peroleh dari padaNya, karena kita menuruti perintahNya dan melaksanakan kehendakNya. Dan inilah perintah Allah, supaya kita percaya akan nama Puteranya Yesus Kristus serta saling mengasihi, seperti diperintahkanNya kepada kita. Setiap orang yang menjalankan perintahNya, akan tinggal dalam Allah dan Allah dalam dia. Dan kita tahu bahwa Ia tinggal dalam kita, karena Roh yang telah diberikanNya kepada kita. Demikianlah sabda Tuhan.

BACAAN INJIL :

Pilihan 1: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Yohanes 15:12-16

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-muridNya: “Inilah perintahKu, bahwa kamu harus saling mengasihi seperti Aku mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawa untuk sahabat-sahabatnya. Kamu sungguh sahabatKu, jikalau kamu melaksanakan yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, karena seorang hamba tidak tahu apa yang dibuat oleh tuannya. Tetapi kamu kusebut sahabat, karena segala yang Kudengar dari BapaKu telah kunyatakan kepadamu. Bukannya kamu yang memilih Aku melainkan Aku yang memilih kamu. Kamu telah Kutetapkan agar pergi dan berbuah, dan buahmu tinggal tetap. Maka Bapa akan memberikan kepadamu apa saja yang kamu minta.” Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 2: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Yohanes 2:1-11

Pada suatu hari diadakan pernikahan di kota Kana di Galilea, dan ibu Yesus hadir di situ. Yesus dan murid-muridNya diundang juga ke pesta nikah itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata: “Mereka kehabisan anggur.” Jawab Yesus: “Itu bukan urusanKu, ibu. SaatKu belum tiba”. Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Lakukanlah apa saja yang dikatakanNya kepadamu.” Di situ tersedia enam tempayan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya sekitar seratus liter. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan ini dengan air”. Merekapun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Nah, cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta”. Mereka membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air yang telah menjadi anggur, ia memanggil pengantin pria. Ia tidak tahu dari mana datangnya anggur itu, hanya pelayan-pelayan mengetahuinya. Maka pemimpin pesta berkata kepada pengantin pria: “Biasanya orang menghidangkan anggur yang baik dulu, dan sesudah orang puas minum barulah yang kurang baik. Akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Demikianlah Yesus mulai mengerjakan tanda-tandaNya di kota Kana di Galilea. Dengan tanda pertama ini Ia menyatakan kemulianNya, dan murid-muridNya percaya kepadaNya. Demikianlah sabda Tuhan.


TEMA 4

CINTA MEMPERSATUKAN


BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab Kejadian 2:18-24

Tuhan Allah bersabda: “Tidak baik kalau manusia itu sendirian saja. Baiklah Kubuat untuknya seorang pembantu yang serupa dengan dia”. Tuhan membentuk dari tanah semua makhluk yang bernyawa di atas bumi. Dan juga burungburung di udara. Tuhan Allah menghantarkannya kepada Adam, supaya Adam melihat dan memberi nama kepada mereka. Adam memanggil semua makhluk hidup, burung-burung di udara, binatang-binatang di darat, dengan nama mereka. Tetapi Adam tidak menemukan seorang pembantu yang serupa dengan dirinya. Lalu Tuhan membuat Adam tertidur. Ketika Adam tidur lelap, Tuhan mengambil satu dari rusuknya dan mengisi tempat itu dengan daging. Lalu Tuhan Allah membentuk rusuk yang telah diambilNya menjadi seorang wanita. Wanita itu dihantarNya kepada Adam. Maka Adam pun berkata: “Inilah tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku. Dia akan disebut wanita, karena diambil dari pria”. Karena itu pria akan meninggalkan ibu bapanya, dan mengikatkan diri pada isterinya. Dan keduanya akan hidup bersatu padu jiwa raganya. Demikianlah Sabda Tuhan.

Pilihan 2:Pembacaan dari kitab Tobit 7:9c-10.11c-17

Raguel mengajak Tobia dan temannya makan bersama. Tetapi Tobia berkata: “Saya tidak akan makan atau minum apa-apa, sebelum bapa meluluskan permintaan saya dan berjanji memberikan Sara, puteri bapa, kepada saya”. Raguel bimbang dan tidak berani menjawab. Melihat itu malaekat Rafael berkata:”Janganlah bapa takut memberikan puteri bapa kepadanya, sebab ia ditentukan Allah untuk menjadi isteri pemuda saleh ini. Itulah sebabnya orang lain tidak diijinkan mengawini dia”. Maka Raguel berkata: “Akhirnya Allah mengabulkan doa dan tangisku. Aku yakin bahwa Allah menghantar kamu kepadaku, supaya puteriku dapat dikawini saudara sepupunya, sesuai dengan peraturan hukum Musa. Jangan khawatir, aku menyerahkan puteriku kepadamu”. Raguel lalu memegang tangan kanan puterinya dan meletakkannya di atas tangan kanan Tobia, sambil berkata: “Semoga Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub menyertai kamu. Semoga Ia menyatukan kamu dan melimpahi kamu dengan berkatNya”. Lalu mereka mengambil kertas dan menulis perjanjian nikah. Sesudah itu mereka makan dan minum serta memuji Allah. Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 3: Pembacaan dari surat pertama rasul Petrus 3:1-9

Saudara-saudara terkasih, hendaknya para isteri tunduk kepada suaminya. Dengan demikian mungkinlah seorang suami yang tidak percaya akan sabda Allah, diyakinkan oleh kelakuan isterinya tanpa banyak bicara, sebab ia melihat betapa murni dan saleh hidup isterinya. Janganlah kamu hanya menghiasi badanmu dengan merias rambut, dengan memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah. Tetapi hiasilah batinmu dengan perhiasan yang tersembunyi, yang tidak akan binasa, yang timbul dari hati yang lemah lembut dan tenteram, yang amat berharga dalam pandangan Allah. Begitulah wanita-wanita suci dulu berdandan, yaitu wanita yang menaruh harapannya pada Allah. Mereka tunduk kepada suaminya, seperti Sara taat kepada Abraham, dan yang menyebut dia tuannya. Kamu menjadi puteri-puterinya kalau kamu berlaku baik dan tidak takut akan ancaman. Demikian juga kamu, para suami, hendaknya kamu menaruh pengertian kepada isterimu dalam hidup bersama, dan hormatilah mereka sebagai kaum yang lemah, sebab mereka juga ahli waris rahmat kehidupan. Kalau begitu, doamu tidak ditolak. Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata dan seperasaan. Hendaklah kamu mengasihi saudara-saudara dan bersikap lemah lembut dan rendah hati. Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati. Karena untuk itulah kamu dipanggil, supaya kamu sendiri juga memperoleh berkat. Demikianlah sabda Tuhan.

BACAAN INJIL :

Pilihan 1: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Yohanes 17:20-26

Pada suatu ketika Yesus menengadah serta berdoa: “Bapa yang kudus, Aku berdoa bukan saja untuk mereka itu, tetapi juga untuk orang-orang, yang akan percaya kepadaKu karena perkataan mereka. Semoga mereka semua bersatu, seperti engkau, ya Bapa, berada dalam Aku dan Aku dalam Engkau. Semoga merekapun bersatu dalam kita, agar dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku. Kemuliaan yang Kauberikan kepadaKu, telah Kuberikan kepada mereka, supaya mereka bersatu seperti Kita, aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka bersatu dengan sempurna, dan dunia mengetahui bahwa Engkau mengutus Aku, dan bahwa Engkau mencintai mereka seperti Engkau mencintai Aku. Bapa, Aku menghendaki agar semua orang yang Kauserahkan kepadaKu, tinggal bersamaKu ditempat Aku berada, supaya mereka memandang kemuliaan, yang telah Kau berikan kepadaKu. Sebab Engkau telah mencintai Aku sebelum dunia tercipta. Bapa yang adil, dunia tak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka mengetahui bahwa Engkau mengutus Aku. Aku telah menyatakan namaMu kepada mereka dan akan tetap menyatakannya, agar cintaMu kepadaKu menetap dalam hati mereka, seperti Akupun berada dalam mereka.” Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 2: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Markus 10:6-9

Yesus kemudian mengajar murid-muridNya dan berkata: “Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka lakilaki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia”. Demikianlah sabda Tuhan.


TEMA 5:

CINTA BERKURBAN

BACAAN I:

Pilihan 1: Pembacaan dari kitab Kejadian 1:26-28.31a

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikanikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; lakilaki dan perempuan diciptakanNya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burungburung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, dan sungguh amat baik. Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 2: Pembacaan dari surat rasul Paulus kepada umat di Roma 12:1-2.9-18

Saudara-saudara, demi kerahiman Allah aku memperingatkan kamu: persembahkanlah tubuhmu sebagai kurban yang hidup, yang suci dan berkenan pada Allah. Itulah ibadatmu yang sejati. Janganlah kamu menyesuaikan diri dengan dunia ini, melainkan berubahlah menjadi manusia berbudi baru, sehingga kamu sanggup membedakan apa yang dikehendaki Allah apa yang baik, apa yang berkenan padaNya, dan apa yang sempurna. Kasihmu janganlah pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mencintai sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah kegiatanmu berkurang, hendaknya semangatmu bernyalanyala. Layanilah Tuhan, bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa. Dampingilah orang-orang seiman dalam kekurangannya, berilah tumpangan kepada orang-orang asing. Berkatilah orang yang menganiaya kamu. Berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersuka cita, dan menangislah dengan orang yang menangis. Hendaklah kamu sehati sependapat; jangan pikirkan yang muluk-muluk, tetapi perhatikanlah yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai. Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; hendaklah kamu berlaku baik terhadap setiap orang. Sedapat-dapatnya dari pihakmu, hiduplah dalam damai dengan semua orang. Demikianlah Sabda Tuhan.

Pilihan 3: Pembacaan dari surat pertama rasul Paulus kepada umat di Korintus 6:13c-15a.17-20

Saudara-saudara, tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh. Allah telah membangkitkan Tuhan, dan dengan kuasaNya Ia akan membangkitkan kita pula. Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu itu anggota Kristus? Barangsiapa mempersatukan diri dengan Tuhan, menjadi satu roh denganNya. Jauhilah percabulan. Dosa manapun yang diperbuat orang, dilakukan di luar tubuh. Tetapi yang melakukan percabulan, berdosa terhadap tubuhnya sendiri. Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu itu kenisah Roh kudus yang berdiam dalam dirimu dan yang kamu terima dari Allah? Karena itu tubuhmu bukanlah milikmu sendiri. Sebab kamu telah dibeli dengan harga yang mahal. Maka muliakanlah Allah dalam tubuhmu. Demikianlah sabda Tuhan.

BACAAN INJIL :

Pilihan 1: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Matius 5:13-16

Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Kamu ini garam dunia. Jika garam hilang rasanya, tak mungkin dibuat asin lagi. Tiada gunanya lagi, maka dibuang dan diinjak-injak orang di jalan. Kamu ini cahaya dunia. Sebuah kota yang didirikan di atas gunung, tak mungkin tersembunyi. Begitu pula lampu yang dinyalakan, tidak ditaruh di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, agar dapat menerangi semua orang dalam rumah. Demikianlah cahayamu harus bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuji Bapamu di sorga.” Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 2: Inilah Injil Yesus Kristus menurut santo Matius 7:21.24-29

Yesus bersabda kepada murid-muridNya: “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: “Tuhan, Tuhan! akan masuk kerajaan Allah, melainkan yang melakukan kehendak BapaKu di sorga.Semua orang yang mendengar ajaranKu dan melakukannya, dapat disamakan dengan seorang bijaksana, yang membangun rumahnya diatas wadas. Angin bertiup kencang, hujan turun, sungai meluap dan melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak roboh, sebab didirikan di atas wadas.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Pilihan 3: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Matius 5:1-12a

Pada suatu hari Yesus mendaki lereng sebuah bukit, sebab melihat banyak orang yang datang. Setelah Ia duduk, datanglah murid-muridNya. Lalu Yesus mulai berbicara dan menyampaikan ajaran ini kepada mereka: “Berbahagialah yang hidup miskin terdorong oleh Roh Kudus, sebab bagi merekalah kerajaan Allah. Berbahagialah yang berduka cita, sebab mereka akan dihibur oleh Allah. Berbahagialah yang lembut hati, sebab mereka akan mewarisi tanah pusaka Allah. Berbahagialah yang haus akan kebenaran, sebab mereka akan dipuaskan Allah. Berbahagialah yang berbelaskasihan kepada orang lain, sebab Allah akan berbelaskasihan kepada mereka. Berbahagialah yang suci hatinya, sebab mereka akan memandang Allah. Berbahagialah yang mengusahakan perdamaian, sebab Allah akan menyebut mereka anak-anakNya. Berbahagialah yang dikejar-kejar karena taat kepada Tuhan, sebab bagi merekalah kerajaan Allah. Berbahagialah kamu, kalau diejek, dianiaya atau difitnah karena Aku; bersukacita dan bergembiralah, sebab besarlah ganjaranmu di sorga.”

Demikianlah sabda Tuhan.


HOMILI OLEH IMAM: semua duduk